Sabtu, 25 Agustus 2012

Sederhana Adalah Indah


Ada satu pabrik biskuit yang baru saja menginvestasikan modal besar untuk memasang satu lini produksi otomatis yang paling modern dan paling cepat. Dari produksi sampai pembungkusan bonbon dioperasikan dengan sabuk berjalan, sehingga dapat menghemat banyak waktu berharga, ini membuat pemilik pabrik merasa sangat senang.

Namun tidak berselang lama kemudian, pabrik telah menerima banyak telpon keluhan, tidak sedikit produk yang dibeli pelanggan, walau bungkusannya tidak bermasalah, ternyata setelah dibuka, dalamnya kosong, tidak ada biskuit sama sekali.

Para insinyur mengatakan kalau mestinya masalah ada pada rancangan mesin baru ini. Mendengarnya, pemilik pabrik lalu mengundang banyak tenaga ahli untuk melakukan penelitian, dengan harapan dapat mengetahui pokok permasalahannya.

Sebulan kemudian, tim ahli menyerahkan sebuah buku laporan tebal kepadanya, mereka memperkirakan sebab kesalahan dari sudut pandang fisika dan matematika dan memperhitungkan segala kemungkinan kesalahannya. Pada halaman terakhir dari buku laporan tertulis kesimpulan : Saran kami adalah ganti mesin baru.

Ketika pemilik pabrik membaca laporan yang tidak berguna sama sekali ini, dia benar-benar emosi sampai hampir pingsan. Kebetulan pada sore hari itu, dia sudah harus berangkat ke luar negeri untuk urusan bisnis dan tidak bisa memimpin sendiri penanganan masalah. Pemilik pabrik yang sudah kehabisan akal ini hanya bisa menggaruk-garuk kepala dan berjalan ke sana ke mari di dalam pabrik.

Tiba-tiba ada seorang operator produksi datang mendekat padanya, dia berkata dengan suara pelan: “Bos.... menurutku, aku bisa menyelesaikan masalah produksi.”

“Apa katamu?” Pemilik pabrik langsung menghentikan langkah kakinya dan berkata dengan mata melotot: “Aku telah menyewa begitu banyak tenaga ahli untuk menyelesaikannya dan mereka telah pun gagal, kamu hanya seorang pekerja biasa, apakah kamu bisa?”

Pekerja itu menganggukkan kepalanya. Pemilik pabrik menghela napas dan berkata: “Baiklah. Jika kamu sanggup menuntaskan masalah ini sebelum aku kembali dari luar negeri, aku naikkan jabatanmu menjadi Kepala Pabrik.”

Setengah bulan kemudian, pemilik pabrik pulang dari luar negeri. Di luar dugaannya, ternyata produk selama setengah bulan ini tidak ada satu pun yang cacat, tampaknya pekerja ini telah berhasil.

Sesuai janjinya, pemilik pabrik mempromosikan pekerja ini menjadi kepala pabrik. Dia tidak dapat menahan diri dan bertanya dengan perasaan ingin tahu: “Siapa sebenarnya dirimu? Apakah kamu sengaja menyembunyikan kemampuanmu? Atau kamu adalah seorang jenius dalam bidang mesin?”

“Lapor Bos, seperti anda lihat, aku hanya seorang pekerja biasa”, jawabnya.

“Lalu, bagaimana kamu melakukannya?” Pemilik pabrik bertanya dengan heran.

“Sangat mudah!” Sambil mengangkat bahu, pekerja itu melanjutkan: “Aku hanya memasang satu kipas angin besar di bagian belakang lini produksi, sehingga bungkusan kosong terhembus oleh angin kipas angin itu.”

Ketika menghadapi masalah produksi ini, pemilik pabrik yang sudah berpengalaman banyak tahun di bidang bisnis dan para ahli berpendidikan tinggi sibuk membuat "rumit" masalah tanpa menyelesaikannya, sebaliknya pekerja yang memikirkan masalah dengan "pengetahuan umum" mampu membuat masalah menjadi "sederhana" dan menuntaskannya dengan mudah.

Kamis, 23 Agustus 2012

Senyuman Adalah Paling Cantik

Ada seorang ibu miskin yang telah bercerai dari suaminya dan harus mencari nafkah sendiri untuk menghidupi anaknya. Pernah sekali, karena ingin meluaskan pandangan anaknya, agar dia dapat melihat dunia yang
indah, maka dia membawa anaknya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, supaya dia dapat mengenal segala macam barang.

Barang-barang dalam pusat perbelanjaan sungguh beraneka ragam, ada berbagai macam mainan: beruang kecil, kucing kecil, boneka, robot, dan lain sebagainya. Anaknya sungguh penurut, dia sudah merasa senang asal ibu membawanya melihat-lihat ke sana ke mari.

Suatu hari, dia melihat ada orang sedang mengambil foto. Anak ini tiba-tiba menarik tangan ibunya dan berkata: “Bu, aku juga ingin foto!” Ibu ini mengelus kepala anaknya sambil membereskan rambutnya, dengan lembut mengelus pipi anaknya dan berkata: “Anakku! Kamu lihat pakaianmu ini kurang cantik, bagaimana kalau hari ini jangan foto dulu?”

Anak ini baru berusia 5 atau 6 tahun, namun ternyata dia menjawab ibunya: “Bu, tidak ada pakaian cantik untuk dikenakan juga tidak apa-apa. Walau pakaianku tidak cantik, namun aku bisa tersenyum, bukankah senyumku sangat cantik?”

Setelah mendengar perkataan itu, ibu merasa sedih, sebab dia tidak pernah memberikan pakaian cantik untuk dikenakan oleh anaknya, namun semua orang mengatakan kalau anaknya sangat menarik. Pada hari itu, ibu baru sadar kalau anaknya sangat menarik dikarenakan mukanya senantiasa dihiasi dengan senyuman.

Senyuman memang paling cantik. Walaupun mengenakan pakaian secantik apa pun, tidak akan lebih cantik daripada senyuman akrab di wajah. Anak berusia 5 atau 6 tahun ini sungguh bijak, dia tahu kalau ibunya sangat bersusah payah, tidak ada uang berlebih untuk dipergunakan, maka dia hanya ingin melihat-lihat di pusat perbelanjaan saja, walau tidak ada pakaian cantik untuk dikenakan, namun dirinya dapat menciptakan rasa keindahan, yaitu senyumannya.

Jika tiada keserakahan dan keinginan berlebihan, hidup kita baru akan terasa memuaskan dan nyaman. Orang yang tahu puas dan nyaman, wajahnya akan senantiasa dihiasi dengan senyum puas, ini berarti hatinya sangat tenang dan terjaga dengan baik. Dalam kehidupan, asal batin tenang dan wajah senantiasa dihiasi dengan senyuman, maka ini adalah kehidupan yang paling indah.

Anakku, Belikan Ibu Sekantung Roti

Hari itu adalah hari Sabtu, sore menjelang malam di musim semi memiliki warna dan bau bagai jus jeruk segar.

Sejak pagi-pagi saya sudah berjanji dengan teman-teman akan jalan-jalan ke pasar malam, ternyata ibu menelpon pada jam akan pulang kantor, suaranya penuh keceriaan bagaikan anak gadis saja: “Besok kantor saya akan jalan-jalan ke luar kota untuk melihat
rumput hijau di musim semi, nanti ketika kamu pulang kantor tolong belikan sekantung roti kelapa di toko roti Tiramisu, saya akan membawanya sebagai bekal makan siang.”

“Jalan-jalan ke luar kota untuk melihat rumput hijau?”, saya terkejut mendengarnya, “Wah! Kalian masih bisa jalan-jalan ke luar kota untuk melihat rumput hijau?”

Tanpa berpikir panjang, saya segera menolaknya, “Bu, saya sudah janjian dengan teman akan ke luar jalan-jalan, saya tidak ada waktu.”

Setelah tawar menawar untuk waktu yang lama, ibu terus berkata: “Hanya membelikan sekantung roti saja, itu sangat cepat dan tidak akan memperlambat dirimu.”

Akhirnya karena nada suara ibu agak marah, saya dengan terpaksa menyanggupinya.

Karena ingin cepat-cepat menuntaskannya, maka begitu habis jam kantor saya segera menuju ke toko roti itu.

Namun begitu melihat kondisi di toko roti tersebut, hati saya segera amblas, sebab sangat ramai sekali, pelanggan berbaris panjang sampai di luar toko, tanpa tertahankan saya menjerit dalam hati.

Sambil berbaris dalam antrian panjang, saya berulang kali melihat pada jam tangan, sesekali juga bertanjak kaki untuk melihat ke dalam toko, setelah berdiri selama 20 menit, baru berhasil masuk ke dalam toko.

Saya berdiri sampai merasa berat di atas kepala. Lapar sampai mata berkunang-kunang, apalagi setelah terpikir teman-teman pasti sedang menunggu, saya terus mengentak-ngentakkan kaki karena kesal.

Angin semilir musim semi menghembus di sekeliling tubuh saya, ditambah lagi dengan semerbak roti siap panggang yang memabukkan, namun hati saya malah penuh dengan api amarah yang sewaktu-waktu siap meledak.

Benar-benar saya tidak tahu apa yang diinginkan ibu, hari Minggu tidak istirahat di rumah, malahan pergi jalan-jalan, apakah tubuhnya tahan?

Lagipula ke luar bersama-sama teman sejawat di kantornya, sekelompok perempuan lanjut usia jalan-jalan di musim semi, apa yang menyenangkan? Kebiasaan jalan-jalan di musim semi seharusnya merupakan kegiatan anak-anak. Ibu sudah sedemikian tua, kenapa masih jalan-jalan di musim semi?

Orang-orang di depan mulai bertengkar hebat karena masalah antrian. Ada orang yang antusias membantu, dia menghitungkan jumlah dan jenis roti yang dibeli setiap orang, serta mengaturkan urutan antrian.

Jika dihitung-hitung, saya adalah orang terakhir dari panggangan ketiga, paling tidak ada sedikit harapan, saya menarik napas lega dan mengganti dengan kaki satunya untuk berdiri.

Pada saat ini di belakang saya ada yang memangil dengan suara halus: “Nona.”

Saya berpaling, ternyata seorang ibu setengah umur yang tidak saya kenal.

Saya bertanya dengan ketus: “Ada apa?”

Dia berkata dengan senyum penuh kerendahan hati: “Nona, bolehkah kita berembuk sebentar? Lihat, saya hanya berjarak satu orang di belakangmu, namun harus menunggu satu kali panggang lagi. Saya ini membelikan roti untuk anak lelakiku, besok dia akan melakukan perjalanan jauh, nanti saya harus lekas pulang untuk masak nasi, malam masih harus mengantarkannya ke les. Jika kamu tidak terburu-buru, apakah boleh?..”

Wajahnya penuh dengan harapan, sambil bertanya, “Untuk siapa kamu belikan roti?”

Saya menjawab dengan wajar: “Untuk ibuku, besok dia akan pergi jalan-jalan ke luar kota untuk melihat rumput hijau di musim semi.”

Saya benar-benar tidak mengerti, begitu mendengar jawabanku, seluruh toko bagaikan tersenyap tanpa suara, semua pandangan mata mengarah padaku.

Ada orang yang bertanya dengan suara keras: “Belikan untuk siapa katamu?”

Sebelum saya sempat menjawab, pelayan toko berkata dengan tertawa: “Wah! Hari ini sudah terjual ratusan kantung roti, namun anda adalah orang pertama yang membelikan untuk ibunya.”

Saya terkejut mendengarnya, saya melihat ke sekeliling dan menemukan kalau hampir semua orang yang antri adalah wanita, dari wanita tua beruban sampai ibu muda, setiap orang terlihat sudah menjadi orangtua anak.

“Bagaimana dengan kalian?”

“Tentu saja dibelikan untuk raja cilik di rumah.” Tidak tahu siapa yang menyahut, namun semua orang tertawa jadinya.

Ibu yang berada di belakangku segera berkata: “Maaf! Saya tidak menyangka, benar-benar tidak menyangkanya. Toko ini demikian ramai, namun kamu rela menunggu, benar-benar tidak mudah. Awalnya saya sudah tidak mau datang lagi untuk membelinya, namun anakku bersikeras mau. Karena hanya setahun sekali, saya rela memberinya makan enak dan main enak. Ketika kita kecil dan akan berpergian jauh, bukankah juga ingin makan makanan ringan?”

Pada wajahnya seketika timbul kedambaan pada masa lalu, membuat orangnya terlihat menjadi lembut sekali.

Saya bertanya: “Apakah anda masih ingat akan perihal berpergian jauh di masa kecil?”

Dia tertawa: “Kenapa tidak ingat? Sekarang juga ingin pergi, setiap tahun juga menginginkannya, walau pun hanya duduk di atas rumput sambil menikmati siraman sinar matahari juga sudah cukup, biar bagaimana pun juga merupakan musim semi. Namun sayang tidak ada waktu.”

Dia mengeluhkan dengan suara kecil: “Mungkin kalau anakku sudah seusia kamu sekarang, barulah saya ada kesempatan untuk itu.”

Ternyata demikian adanya, jalan-jalan ke luar kota untuk melihat rumput hijau di musim semi bukan merupakan gerak hati sekonyong-koyong dari ibu, melainkan harapannya yang sudah terpendam selama puluhan tahun dalam lubuk hatinya. Namun kenapa saya tidak pernah memahaminya, sedangkan saya adalah anaknya.

Di dalam kantung plastik di tangannya ternyata berisi minuman, roti kering, gel buah dan makanan kesukaan anak-anak lainnya. Kantung plastik itu sungguh berat sehingga terlihat tubuhnya ikut miring sedikit, namun dia tetap tidak mau menaruhnya di lantai dan beristirahat sejenak, dia menjelaskan padaku: “Semua isi plastik ini tidak boleh terbentur atau tertekan.” Dia menunggu dengan tegar dan susah payah sambil memikul tanggung jawab menjaga barang-barang yang tidak boleh terbentur atau tertekan ini.

Dia mendesah dengan senyum tenang: “Siapa suruh saya seorang ibu? Saya harus bertahan sampai nantinya anakku tahu untuk membelikan sesuatu untukku.”

Dia memandang pada saya dalam-dalam dan berkata dengan suara penuh keyakinan, “Pokoknya hari itu sudah tidak lama lagi.”

Hanya karena keberadaan saya, apakah berhasil memberikan kepercayaan diri sedemikian besar padanya?

Seketika saya teringat pada diriku yang tadinya menolak sana sini pada ibu, hatiku mulai terasa pilu.

Pada saat ini, roti panggangan baru sudah dikeluarkan, harumnya menyebar ke mana-mana.

Ibu yang berada di depanku memalingkan muka dan berkata: “Mari kita berganti tempat saja, kamu beli dulu.”

Saya terpaku dan segera menolak: “Tidak usah, anda sudah menunggu lama.”

Namun dia sudah berada di belakangku, wajah tuanya penuh dengan bekas dari kerasnya kehidupan.

Suaranya lembut: “Namun ibumu sudah menunggu dua puluhan tahun.”

Ibu tua di depan juga menghindar dengan muka tersenyum. Orang yang di depannya juga melihat padanya sejenak dan menghindar juga. Saya melihat mereka satu persatu mengalah dengan tenang dan wajar.

Di depanku terbentang sebuah jalur yang langsung menuju ke kasir. Saya berdiri di ujung jalur dengan mata terbelalak dan mulut terbuka, bolak balik tanpa berani melangkah maju.

“Cepat”, ada orang yang mendesakku, “Ibumu sudah menunggu di rumah.”

Saya melihat pada setiap orang dari mereka dengan jantung berdebar, mereka memandang padaku dengan wajah tersenyum. Dalam tatapan mata mereka ada beban usia, namun juga ada keyakinan diri terhadap masa depan. Selebihnya adalah kelembutan tanpa batas. Seketika saya mengerti kalau yang mereka lihat bukanlah diriku, melainkan anak mereka yang sudah dewasa.

Apakah semua ibu sudah terbiasa tidak berkata susah, juga tidak meminta balasan, impian kecil mereka hanyalah suatu hari kelak anak mereka akan membelikan sekantung roti ketika pulang kerja.

Jalur menuju kasir ini terasa sangat panjang. Saya seakan berjalan dalam dekapan setiap ibu, bagaikan melewati kehidupan yang sangat panjang.

Dari seorang anak yang tahu tahu apa-apa berjalan sampai ujung kehidupan, akhirnya saya mengerti akan isi hati ibu.

Kamis, 16 Agustus 2012

6 Ciri Pasangan Posesif Dan 6 Tips Mengatasinya

Cinta yang posesif itu bukan cinta yang mendewasa. Bagi pelakunya, dapat dikatakan masih kekanak-kanakan dengan menuntut pasangannya untuk menjadi seperti yang diharapkannya, tanpa memberikan ruang untuk berkembang secara original & genuine.

Posesif dapat diartikan sebagai reaksi yang berlebihan atas hal-hal yang wajar. Posesif muncul ketika sikap “perhatian” dinilai berlebihan, baik oleh lawan pasangan atau oleh lingkungan. Perbedaan dengan over protective adalah konteks relasinya, dimana over protective lasimnya ada dalam relasi antara anak dan orang tua.

Sikap ini berpotensi muncul di awal-awal masa pacaran sebagai bentuk usaha untuk memaknai rasa “saling memiliki”. Trauma atau pengalaman buruk di masa berpacaran yang sebelumnya dapat memicu muncul dan berkembangnya sikap posesif. Misalnya, pengalaman dikhianati atau ditinggal selingkuh pasangannya. Karenanya, yang bersangkutan menjadi posesif dengan harapan pengalaman traumatis di masa lalu tidak berulang kembali.

Kesenjangan yang mencolok antar pasangan dapat pula memicu sikap posesif. Misalnya, seorang pria yang ”chasing”nya biasa saja, namun memiliki pacar seorang putri yang cantik jelita. Hal tersebut dapat memunculkan pemikiran-pemikiran yang negatif akan pasangannya, seperti: banyak pria tampan yang pasti naksir pacarnya. Karenanya, semampu mungkin akan membatasi pacarnya sedemikian rupa sehingga tidak akan berpaling dari dirinya yang biasa saja. Dalam kaitannya dengan gender, kaum pria cenderung posesif, manakala yang bersangkutan merasa lebih dibandingkan pasangannya, sehingga merasa memiliki hak untuk “mengatur” pihak perempuan.

Tips untuk mengatasi posesif adalah membangun, memelihara dan menjaga sikap saling percaya. Tentukan arah hubungan, apakah hanya sekedar menikmati masa pacaran saja atau ada orientasi luhur yang ingin dicapai. Usahakan juga hubungannya setara. Sedapat mungkin, ketika masalah yang berbau rasa cemburu diselesaikan hingga tuntas dan tidak berlarut-larut. Bila memiliki pasangan yang posesif, maka pihak yang tidak posesif memberikan kesempatan bagi pasangan untuk tidak posesif. Misalnya, berani asertif bahwa sikap posesif pasangannya justru menjadikan dirinya tidak berkembang.

- 6 Tanda Bahwa Seseorang Itu Posesif -

Sikap posesif pasangan terkadang bisa diartikan sebagai tanda perhatian si dia. Namun, sikap jika posesif si dia mulai membuat hidup Anda terasa terkekang, kondisi ini biasanya berujung pada keretakan hubungan.

Perlu diketahui, hubungan yang sehat selalu ditandai sikap-sikap saling menghormati kebebasan pribadi pasangan, tetapi tetap dalam kerangka komitmen yang sehat.

Bagaimana dengan kekasih Anda? Apakah dia selalu memaksakan kehendaknya atau sebaliknya, selalu menunjukkan sikap dewasa dalam menjalani hubungan ini? Anda perlu tahu ciri pasangan yang punya sikap posesif, seperti dikutip dari Times of India:

1. Bersikeras Mengetahui Keberadaan Anda
Tanda paling jelas dari kekasih posesif adalah selalu ingin mengontrol hidup Anda. Jika dia tidak dapat menghubungi Anda melalui telepon, dia akan menginterogasi Anda untuk mendapatkan jawaban rinci dan detail.

2. Menghubungi Berkali-Kali
Dia akan menghubungi Anda berkali-kali dalam sehari hanya untuk memastikan bahwa Anda baik-baik saja. Tentu saja ini bisa mengganggu, apalagi bila dia sampai mengirim SMS atau menelepon Anda meski sudah larut malam. Lama kelamaan, tentu Anda tidak merasakan hal ini sebagai perasaan cinta. Sikap overprotektif bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman.

3. Menganggap Anda Adalah Teman Si Dia Satu-Satunya Baginya, Anda adalah segalanya. Dia juga menuntut Anda berlaku demikian. Semua hal yang dia lakukan harus dilalui berdua. Lama kelamaan, hal ini tentu bisa membuat Anda sulit bergerak.
Jika Anda merencanakan jalan-jalan dengan teman-teman atau sekadar memanjakan diri, si dia akan menafsirkan bahwa Anda mengabaikannya. Dia akan marah dan mungkin akan membuat Anda merasa serba salah.

4. Si Dia Ingin Anda Benar-Benar Kenali Kehidupannya
Banyak wanita berpikir, kecemburuan dari kekasih mereka akan membuat wanita merasa dihargai dan penting. Perbedaan antara cemburu dan posesif adalah ketika kekasih tidak puas dengan hanya mengetahui bahwa orang itu memperhatikan Anda. Dia akan menggali lebih lanjut dan bertanya seputar pendapat Anda tentang dirinya.

5. Selalu Mengatur Dalam Segala Hal
Seorang wanita membutuhkan ruang untuk bisa melakukan banyak hal, dan yang terpenting adalah saat berbusana. Tapi, pria posesif akan selalu ingin mengatur soal urusan pakaian pasangannya. Jika selalu mengkritik Anda, misalnya soal cara berpakaian, si dia termasuk dalam kategori posesif.

6. Membatasi Ruang Gerak Anda
Kebanyakan pria posesif tidak suka pasangan mereka menghabiskan waktu bersama keluarganya. Jika si dia mulai tak suka dengan kedekatan Anda dengan keluarga, Anda harus berhati-hati, pasangan masuk dalam kategori posesif.
Jika kekasih memiliki lebih dari sikap posesif, ada baiknya Anda melakukan komunikasi intensif dengannya, dan buat komitmen hubungan yang bisa membuat Anda merasa nyaman. Jangan sampai karena sikap posesifnya membatasi ruang gerak Anda.

- Jadi bagaimana cara mengatasinya? -

6 Cara Menghilangkan Sifat Posesif

Apakah kamu seorang pacar yang posesif? Wah,kasihan sekali pacar kamu. Pasti dia merasa sangat tidak nyaman dengan sifat posesif kamu itu. Terus bagaimana caranya menghilangkan sifat posesif? Oke, saya akan membantu bagaimana cara menghilangkan sifat posesif agar pacar kamu merasa nyaman berada di dekat kamu.

1. Menyadari Sifat Posesif Itu
Akui saja bahwa kamu memang memiliki sifat posesif. Dengan begitu kamu akan mempunyai motivasi untuk menghilangkannya. Coba pikir,bagaimana kamu mau menghilangkan sifat posesif kalau kamu sendiri tidak menyadari bahwa kamu memiliki sifat posesif.?

2. Jalin Komunikasi Yang Baik
Entah untuk yang keberapa kalinya saya bilang bahwa komunikasi adalah kunci sukses dalam sebuah hubungan. Dan ternyata komunikasi juga merupakan salah satu cara ampuh untuk menghilangkan sifat posesif. Komunikasi juga dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman antara kamu dan pasangan.

3. Percaya Terhadap Pasangan
Belajarlah untuk memberikan kepercayaan terhadap pacar kamu. Apa artinya sebuah hubungan tanpa didasari rasa kepercayaan. Apa pun yang dilakukan selalu dicemburui, dicurigai. Terkadang sifat posesif timbul karena kita tidak bisa mempercayai pasangan.

4. Memiliki Tekad Untuk Berubah
Langkah selajutnya setelah kamu menyadari sikap posesif itu adalah memiliki keinginan,motivasi untuk berubah menjadi lebih baik. Oke, dengan membaca artikel ini, saya harap kamu sudah mempunyai keinginan untuk berubah dan menghilangkan sifat posesif itu.

5. Memberikan Kebebasan
Kamu harus menyadari satu hal, bahwa setiap orang adalah mahluk yang merdeka. Mereka semua memiliki kebebasan untuk memilih, menetukan dan mengatur sendiri hidupnya. Sekali pun itu adalah pacar kamu. Kamu tidak punya hak sama sekali untuk mengekang dan mengatur sesuai dengan keinginanmu. Berikan dia kebebasan secara individu. Tentunya kamu tidak ingin kalau hak-hak kamu sebagai manusia dibatasi bukan? Begitu juga pacar kamu.

6. Minta Pacar Kamu Untuk Mengingatkan
Terlalu berat kalau kamu harus berjuang sendiri untuk menghilangkan sifat posesif kamu itu. Karena itu mintalah bantuan pacar kamu untuk mengingatkan kalau kamu berbuat sesuatu yang mengarah ke sikap atau sifat posesif. Kerjasama antara kamu dan pacar dibutuhkan dalam hal ini.

Selasa, 14 Agustus 2012

Kedamaian

Alkisah, di sebuah kerajaan, sang Raja mengadakan sebuah sayembara. Dengan hadiah berupa emas yang sangat berharga kepada rakyat yang bisa melukis tentang "kedamaian". Saat diumumkan, banyak seniman dan pelukis mencoba mengikuti sayembara dan berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut.

Waktu yang dijanjikan pun tiba. Baginda Raja datang ke tempat para seniman melukis dan berkeliling melihat-
lihat hasil karya mereka. Di antara sekian banyak lukisan, hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukai baginda Raja, yang dianggap mampu mewakili tema tentang kedamaian. Dan sang Raja harus memilih satu di antara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian, gunung-gunung menghijau yang menjulang mengitari danau, di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arakan. Sungguh lukisan pemandangan alam yang sangat indah. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan tentang kedamaian jiwa bagi yang melihatnya.

Sedangkan lukisan kedua menggambarkan pemandangan pegunungan juga. Namun tampak kasar, gundul, dan gersang. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai yang telah mereda. Di sisi gunung, ada air terjun deras yang berbuih-buih. Sekilas, lukisan itu sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian.

Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak menghijau di atas sela-sela bebatuan. Dan di antara semak-semak itu, tampak seekor induk burung pipit berada di atas sarangnya, sedang mengerami telurnya dan terlihat sebuah kehidupan baru berupa anak burung pipit yang menetas dari pecahan telur. Benar-benar indah dan damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba? Sang Raja memilih lukisan nomor dua sebagai pemenangnya. Banyak orang pun bertanya: mengapa lukisan itu yang dimenangkan oleh baginda Raja?

Baginda Raja menjawab dengan lantang, "Lihatlah burung pipit di dalam lukisan ini, mampu menggambarkan sebuah kedamaian,tanggung jawab, dan kehidupan baru. Lihat gambaran situasi alam yang buruk dan tidak mendukung, tetapi ibu pipit memenuhi segenap tanggung jawabnya, tetap mengerami telurnya hingga menetas.

Rakyatku.., kedamaian itu bukan berarti kita harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan, atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah suasana hati dan pikiran yang tenang dan damai. Meski kita berada di tengah-tengah keributan luar biasa namun tidak dipengaruhi keadaan luar. Kedamaian hati adalah kemampuan menjaga keseimbangan dan kebijaksanaan di segala situasi dan tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik."

Semua yang mendengar perkataan raja pun dengan diam mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

Mampu tetap merasa damai di tengah "kekacauan" atau situasi yang riuh rendah memang tidak mudah. Biasanya kita cenderung larut di dalamnya, bahkan mungkin menjadi semakin kacau dan berantakan.

Jika hati dan pikiran kita tidak mampu tenang, kita pun akan mudah terhasut, termakan isu-isu negatif dan hidup menjadi terombang-ambing. Karenanya, kesempatan kita untuk merasakan kedamaian dan bahagia pun menjadi hilang. Mari kita jaga hati dan pikiran sendiri agar selalu tenang dan damai sehingga kebahagiaan akan menjadi milik kita selamanya.

===============

Share/Bagikan Kisah Ini Untuk Menginspirasi Yang Lain

Senin, 13 Agustus 2012

Lakukan yang Terbaik

Seorang anak kecil dan ayahnya sedang berjalan di gunung. Tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit Aaaahhhhh...!!".
Betapa kagetnya dia ketika mendengar ada suara di balik gunung,"Aaaaahhhh...!!".

Dengan penuh rasa ingin tahu,ia berteriak "Hai..siapa kau..?" Ia mendengar lagi suara di balik gunung,"Hai...siapa kau..?".

Ia merasa di permainkan dan dg marah berteriak lagi, "Kau Pengecut.!!".
Sekali lagi dari balik gunung terdengar suara,"Kau pengecut...!!".

anak kecil tersebut lalu menengok ke arah ayahnya dan bertanya,
"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi..?"
Ayahnya tersenyum dan berkata, "Anakku.., mari perhatikan ini..". Kemudian sang ayahpun berteriak pada gunung... "Aku mengagumimu...!" Dan suara itu menjawab "Aku mengagumimu...!"

Sekali lagi ayah berteriak "Kau adalah sang juara...!" Suara itupun menjawab lagi "Kau adalah sang juara...!"

Anak itupun terheran-heran, tapi belum juga memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan... "Nak...,orang2 menyebutnya GEMA. Tapi sesungguhnya inilah yang di sebut dengan KEHIDUPAN itu. Ia akan mengembalikan kepadamu apa saja yang kau lakukan dan kau katakan. (Inilah hukum Tabur tuai didlm banyak agama)

Hidup kita ini hanyalah refleksi dari tindakan kita. Bila kau ingin
mendapatkan lebih banyak cinta kasih di dunia ini, maka berikanlah cinta kasih yang tulus dari hatimu. Bila kau ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka berikanlah kebaikan dari dalam dirimu.

Hal ini berlaku pada apa saja dan pada semua aspek dalam kehidupan manusia. Hidup akan memberikan apa yang telah kamu berikan padanya. Maka sebenarnya hidup ini adalah BUKAN SUATU KEBETULAN. Hidup ini adalah pantulan dari dirimu sendiri... Inilah GEMA HIDUPMU...

"Lakukan yang Terbaik, maka Hasil Terbaik yang akan Kita Peroleh!!!

Mari bersama suarakan : Kita Berbahagia Dan Sukses!"

===============

Share/Bagikan Kisah Ini Untuk Menginspirasi Yang Lain

Menulis di Atas Pasir, Mengukir di Atas Batu

Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras. Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis di sebuah batu : HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Suami bertanya : “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu ?”

Istrinya sambil tersenyum menjawab : “Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu dan aku bisa melupakannya…

Dan bila sesuatu yang baik dan luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin waktu dan akan kuingat selamanya.”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu.

“Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR untuk semua hal yang MENYAKITKAN dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ….”.

Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah “KELUARGA”.

===============

Share/Bagikan Kisah Ini Untuk Menginspirasi Yang Lain