Selasa, 28 Agustus 2012
Kisah Uang Rp 1.000 Dan Rp 100.000
Uang Rp 1.000 dan Rp 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh Bank Indonesia (BI).
Ketika bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat, 4 bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda.
Kemudian diantara kedua uang tersebut terjadilah percakapan; Yang Rp 100. 000 bertanya kepada Rp 1.000, "Kenapa badan kamu begitu lusuk, kotor dan bau amis?"
Rp 1.000 menjawab, "Karena aku begitu keluar dari Bank langsung ditangan orang-orang bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis."
Lalu Rp 1.000 bertanya balik kepada Rp 100.000, "Kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?"
Rp.100.000 menjawab, "Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik, dan beredarnya pun di restoran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet."
Lalu Rp 1.000 bertanya lagi, "Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?"
Rp.100.000 menjawab, "Belum pernah"
Rp 1.000 pun berkata lagi, "Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1.000, tetapi aku selalu mampir di seluruh tempat ibadah, dan ditangan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak dipandang bukan sebuah nilai, tetapi adalah sebuah manfaat."
Akhirnya menangislah Rp 100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini. Jadi bukan seberapa besar penghasilan kita, tetapi seberapa bermanfaat penghasilan kita pakai untuk ke jalan yang benar. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan
Artikel ini kiriman Jzhu Loverz
*Share artikel ini agar menginspirasi yang lain
Kisah Nyata Tentang Keajaiban Cinta
Kisah ini terjadi di Beijing China, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, ia hanya selalu menyimpan di dalam hati dan berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri. Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih.
Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum “Aku harap kau bahagia“. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya.
12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yang akan segera dicetak kepada Yi mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus & tidak ceria bertanya “Apa yang terjadi dengamu, kau ada masalah?”
Yi mei tersenyum semanis mungkin ”Kau salah lihat, aku tak punya masalah apa apa, wah contoh undanganya bagus, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut…” Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya tesebut.
Sahabatnya tersenyum “Oh ya, ummm aku kan menggantinya, terimakasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat lihat perabotan rumah… daag“. Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan, hatinya yang sakit.
18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, Ia mengalami koma, Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup, semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan “Mati“ dan semuanya memiliki alat bantu, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkannya.
Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya. Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan “Suntik Mati“ untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei.
10 Desember 1994 Semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama.
Ia mendekat berbisik di telinga Yi Mei “Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu kupu?… kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu disekolah waktu kita dihukum bersama gara gara kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya?”
“Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga aku pun kotor?… Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu?… Aku tak pernah melupakan hal itu…“
“Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini?….” Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei.
“Mei… kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa?… karena aku sangat mencintaimu, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku“
“Meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup, aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, dengarkan aku Mei … bangunlah…!!“ Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei “Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, Yi Mei sembuh, sembuh total. Aku percaya, bahkan kau tahu?.. aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan“
“Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat…!! kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu… aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei…“
“Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli… tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat“
Sahabat Yi mei berbisik ”Aku sayang kamu, aku mencintaimu” suaranya terdengar parau karena tangisan. Dan apa yang terjadi?…. Its amazing !! ”CINTA“ bisa menyembuhkan segalanya.
7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru parunya, organ tubuhnya bekerja, sungguh sebuah keajaiban !! Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi. Dan sebuah mujizat lagi… masa koma lewat…. pada tgl 11 Des 1994.
14 Des 1994 saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara, sahabatnya ada disana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi. “Aku senang kau bisa bangun, kau sahabatku terbaik“ sahabatnya memeluk erat Yi Mei .
Yi Mei tersenyum “Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku,tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup“ “Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu” Lei memeluk Yi Mei “Aku sangat mencintaimu juga“.
17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing.
----
Dari kisah ini kita bisa belajar tentang dua hal penting: komunikasi dan asumsi. Betapa banyak orang menderita hidupnya hanya karena dua hal ini, salah asumsi dan salah komunikasi. Buang jauh-jauh asumsi, dan utamakan komunikasi.
Komunikasikan keinginan, perasaan, pikiran kita dengan sebaik mungkin entah itu di rumah, di lingkungan kerja, di sekolah, di mana pun juga. Jika kita mampu memanfaatkan kekuatan komunikasi ini dengan baik, hidup kita akan terasa lebih mudah dan mungkin malah lebih baik.
Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum “Aku harap kau bahagia“. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya.
12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yang akan segera dicetak kepada Yi mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus & tidak ceria bertanya “Apa yang terjadi dengamu, kau ada masalah?”
Yi mei tersenyum semanis mungkin ”Kau salah lihat, aku tak punya masalah apa apa, wah contoh undanganya bagus, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut…” Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya tesebut.
Sahabatnya tersenyum “Oh ya, ummm aku kan menggantinya, terimakasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat lihat perabotan rumah… daag“. Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan, hatinya yang sakit.
18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, Ia mengalami koma, Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup, semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan “Mati“ dan semuanya memiliki alat bantu, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkannya.
Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya. Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan “Suntik Mati“ untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei.
10 Desember 1994 Semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama.
Ia mendekat berbisik di telinga Yi Mei “Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu kupu?… kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu disekolah waktu kita dihukum bersama gara gara kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya?”
“Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga aku pun kotor?… Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu?… Aku tak pernah melupakan hal itu…“
“Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini?….” Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei.
“Mei… kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa?… karena aku sangat mencintaimu, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku“
“Meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup, aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, dengarkan aku Mei … bangunlah…!!“ Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei “Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, Yi Mei sembuh, sembuh total. Aku percaya, bahkan kau tahu?.. aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan“
“Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat…!! kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu… aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei…“
“Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli… tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat“
Sahabat Yi mei berbisik ”Aku sayang kamu, aku mencintaimu” suaranya terdengar parau karena tangisan. Dan apa yang terjadi?…. Its amazing !! ”CINTA“ bisa menyembuhkan segalanya.
7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru parunya, organ tubuhnya bekerja, sungguh sebuah keajaiban !! Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi. Dan sebuah mujizat lagi… masa koma lewat…. pada tgl 11 Des 1994.
14 Des 1994 saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara, sahabatnya ada disana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi. “Aku senang kau bisa bangun, kau sahabatku terbaik“ sahabatnya memeluk erat Yi Mei .
Yi Mei tersenyum “Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku,tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup“ “Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu” Lei memeluk Yi Mei “Aku sangat mencintaimu juga“.
17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing.
----
Dari kisah ini kita bisa belajar tentang dua hal penting: komunikasi dan asumsi. Betapa banyak orang menderita hidupnya hanya karena dua hal ini, salah asumsi dan salah komunikasi. Buang jauh-jauh asumsi, dan utamakan komunikasi.
Komunikasikan keinginan, perasaan, pikiran kita dengan sebaik mungkin entah itu di rumah, di lingkungan kerja, di sekolah, di mana pun juga. Jika kita mampu memanfaatkan kekuatan komunikasi ini dengan baik, hidup kita akan terasa lebih mudah dan mungkin malah lebih baik.
Senin, 27 Agustus 2012
Setiap Sesuatu Pasti Ada Ganjarannya
Di sebuah daerah hiduplah seorang pedagang kaya. Ia mempunyai seorang pelayan yang sangat lugu, sehingga orang menyebutnya bodoh.
Suatu hari, si pedagang berkata pada pelayannya untuk pergi ke sebuah desa yang miskin untuk menagih hutang dari para penduduknya. "Hutang mereka sudah terlalu banyak," kata pedagang itu.
"Baiklah, tuan," jawab si bodoh. "Tetapi apa yang akan anda lakukan terhadap uang itu nantinya?"
"Belikan sesuatu yang tidak aku punya," jawab si pedagang.
Kemudian pelayan bodoh itu pergi ke desa. Ia menagih hutang satu demi satu dari para penghuni desa. Penghuni desa itu sangat miskin dan desa mereka baru saja menderita karena kemarau panjang.
Akhirnya, si pelayan bodoh menyelesaikan tugasnya. Di perjalanan pulang ia mengingat perintah tuannya, "belikan sesuatu yang tidak aku punya."
"Apa, ya? Tuanku sangat kaya, bukankah ia sudah memiliki segalanya?" pikir si bodoh.
Setelah berpikir beberapa saat, si bodoh menemukan jawabannya. Ia kembali ke desa itu dan ia membagikan uang yang baru saja ia kumpulkan kepada para penghuni desa.
"Tuanku memberikan uang ini untukmu." katanya. Para penghuni desa sangat gembira. Mereka memuja kebaikan si pedagang itu.
Saat si bodoh pulang ke rumah dan melaporkan apa yang sudah ia lakukan, si pedagang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu benar-benar sangat bodoh," ia mengeluh.
Waktu berlalu. Terjadilah sesuatu yang tidak diperkirakan. Pergantian pemimpin karena pemberontakan dan bencana banjir menghancurkan usaha pedagang itu.
Pedagang itupun bankrut. Ia meninggalkan rumahnya dan hanya si bodoh yang mengikuti dirinya. Saat sampai di sebuah desa, entah mengapa, para penduduk desa menyambut mereka dengan ramah dan hangat. Mereka menyediakan sebuah tempat dan makanan untuk si pedagang.
"Siapa para penghuni desa ini? dan mengapa mereka menolongku?" tanya si pedagang.
"Sebelumnya, tuan mengatakan padaku untuk menagih hutang dari para penduduk miskin desa ini." jawab si bodoh. "Tuan memintaku untuk membelikan sesuatu yang tuan tidak miliki. Aku pikir, tuan sudah mempunyai segalanya. Satu-satunya yang tuan tidak punya adalah cinta dari hati mereka. Kemudian aku mengembalikan uang itu atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.
Pesan Cerita :
Kadang kita tidak menyadari, orang-orang yang kita pikir tidak penting, menjadi orang yang menolong kita di saat sulit. Sadarilah hal itu, janganlah kita melupakan sesama, karena tidak peduli seberapa kecil suatu kebajikan, suatu hari kita akan menuai berkahnya. Mulai hari ini marilah kita belajar sedapat mungkin menyenangkan hati dan membantu orang lain.
Suatu hari, si pedagang berkata pada pelayannya untuk pergi ke sebuah desa yang miskin untuk menagih hutang dari para penduduknya. "Hutang mereka sudah terlalu banyak," kata pedagang itu.
"Baiklah, tuan," jawab si bodoh. "Tetapi apa yang akan anda lakukan terhadap uang itu nantinya?"
"Belikan sesuatu yang tidak aku punya," jawab si pedagang.
Kemudian pelayan bodoh itu pergi ke desa. Ia menagih hutang satu demi satu dari para penghuni desa. Penghuni desa itu sangat miskin dan desa mereka baru saja menderita karena kemarau panjang.
Akhirnya, si pelayan bodoh menyelesaikan tugasnya. Di perjalanan pulang ia mengingat perintah tuannya, "belikan sesuatu yang tidak aku punya."
"Apa, ya? Tuanku sangat kaya, bukankah ia sudah memiliki segalanya?" pikir si bodoh.
Setelah berpikir beberapa saat, si bodoh menemukan jawabannya. Ia kembali ke desa itu dan ia membagikan uang yang baru saja ia kumpulkan kepada para penghuni desa.
"Tuanku memberikan uang ini untukmu." katanya. Para penghuni desa sangat gembira. Mereka memuja kebaikan si pedagang itu.
Saat si bodoh pulang ke rumah dan melaporkan apa yang sudah ia lakukan, si pedagang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu benar-benar sangat bodoh," ia mengeluh.
Waktu berlalu. Terjadilah sesuatu yang tidak diperkirakan. Pergantian pemimpin karena pemberontakan dan bencana banjir menghancurkan usaha pedagang itu.
Pedagang itupun bankrut. Ia meninggalkan rumahnya dan hanya si bodoh yang mengikuti dirinya. Saat sampai di sebuah desa, entah mengapa, para penduduk desa menyambut mereka dengan ramah dan hangat. Mereka menyediakan sebuah tempat dan makanan untuk si pedagang.
"Siapa para penghuni desa ini? dan mengapa mereka menolongku?" tanya si pedagang.
"Sebelumnya, tuan mengatakan padaku untuk menagih hutang dari para penduduk miskin desa ini." jawab si bodoh. "Tuan memintaku untuk membelikan sesuatu yang tuan tidak miliki. Aku pikir, tuan sudah mempunyai segalanya. Satu-satunya yang tuan tidak punya adalah cinta dari hati mereka. Kemudian aku mengembalikan uang itu atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.
Pesan Cerita :
Kadang kita tidak menyadari, orang-orang yang kita pikir tidak penting, menjadi orang yang menolong kita di saat sulit. Sadarilah hal itu, janganlah kita melupakan sesama, karena tidak peduli seberapa kecil suatu kebajikan, suatu hari kita akan menuai berkahnya. Mulai hari ini marilah kita belajar sedapat mungkin menyenangkan hati dan membantu orang lain.
Bermanfaat
Seorang pengusaha sukses dan terkenal bernama Paul bertanya pada pendetanya, ”Maaf saya mengganggu Pak Pendeta. Begini, di lingkungan tempat saya tinggal, di lingkungan saya bekerja, di lingkungan pergaulan, saya selalu dijuluki orang pelit dan kurang bersedekah. Padahal aku sudah menyampaikan kepada mereka bahwa ketika kelak saya mati, seluruh harta dan warisan yg saya sekarang miliki akan saya hibahkan utk yayasan sosial, semua sahabat dan orang2 yang kurang beruntung lainnya.”
Sang Pendeta tersenyum kecil mendengar pertanyaannya sambil balik bertanya,”Emang matinya kapan pak?”
Pak Paul, ”Ya…belum taulah!”
“Baiklah Pak Paul, untuk pertanyaan bapak, saya tidak perlu menjawabnya. Tapi saya akan menceritakan kepada bapak sebuah perumpamaan tentang seekor sapi dan seekor babi. Babi adalah termasuk binatang yang kurang disukai orang karena wajahnya yang jelek, badannya yang bau dan kandangnya yang selalu jorok, sedangkan sapi banyak yang suka.
Suatu hari Babi mengeluh kepada Sapi, "Pi(Sapi), org selalu memuji badannmu yang bagus, matamu yang bening. Mereka pikir engkau sangat dermawan, sebab setiap hari engkau memberi mereka susu segar. Tetapi coba engkau bayangkan dengan aku. Aku telah memberikan semua yang aku miliki, nyawaku melayang sia-sia, dagingku mereka panggang & kadang mereka buat ham, kakiku mereka belah dan mereka membuat sop kaki babi. Bulu-buluku mereka olah dan dijadikan sikat. Tetapi kenapa tak satupun orang dimuka bumi ini yang menyukai aku.??"
“Mau tau apa jawaban si sapi?” kata Pendeta.
“Maulah Pak Pendeta…”jawab Paul
Si sapi menjawab, ”Bi..(Babi) barangkali karena aku memberikan apa yang aku miliki ketika aku masih hidup, sedangkan kamu….memberikan semuanya setelah kamu mati ….”
Pak Paul terdiam sejenak dan akhirnya tersenyum mengerti.
Hal terpenting dalam hidup adalah masa kini. Mari manfaatkan secara maksimal untuk memancarkan kasih dan kearifan.
*share artikel ini untuk menginspirasi yang lain
Sang Pendeta tersenyum kecil mendengar pertanyaannya sambil balik bertanya,”Emang matinya kapan pak?”
Pak Paul, ”Ya…belum taulah!”
“Baiklah Pak Paul, untuk pertanyaan bapak, saya tidak perlu menjawabnya. Tapi saya akan menceritakan kepada bapak sebuah perumpamaan tentang seekor sapi dan seekor babi. Babi adalah termasuk binatang yang kurang disukai orang karena wajahnya yang jelek, badannya yang bau dan kandangnya yang selalu jorok, sedangkan sapi banyak yang suka.
Suatu hari Babi mengeluh kepada Sapi, "Pi(Sapi), org selalu memuji badannmu yang bagus, matamu yang bening. Mereka pikir engkau sangat dermawan, sebab setiap hari engkau memberi mereka susu segar. Tetapi coba engkau bayangkan dengan aku. Aku telah memberikan semua yang aku miliki, nyawaku melayang sia-sia, dagingku mereka panggang & kadang mereka buat ham, kakiku mereka belah dan mereka membuat sop kaki babi. Bulu-buluku mereka olah dan dijadikan sikat. Tetapi kenapa tak satupun orang dimuka bumi ini yang menyukai aku.??"
“Mau tau apa jawaban si sapi?” kata Pendeta.
“Maulah Pak Pendeta…”jawab Paul
Si sapi menjawab, ”Bi..(Babi) barangkali karena aku memberikan apa yang aku miliki ketika aku masih hidup, sedangkan kamu….memberikan semuanya setelah kamu mati ….”
Pak Paul terdiam sejenak dan akhirnya tersenyum mengerti.
Hal terpenting dalam hidup adalah masa kini. Mari manfaatkan secara maksimal untuk memancarkan kasih dan kearifan.
*share artikel ini untuk menginspirasi yang lain
Sabtu, 25 Agustus 2012
Keindahan Jangan Disimpan, Melainkan Harus Dihargai
Seorang temanku menelpon dan menyampaikan kalau dirinya mengalami kecelakaan mobil pada beberapa hari lalu, sekarang sedang melakukan pemulihan di rumah, dia bertanya kepadaku apakah ada waktu untuk menjenguknya. Sehabis meletakkan telpon, aku segera berangkat ke tempatnya. Sesampainya di rumahnya, suaminya yang membukakan pintu, sedangkan temanku
tampak duduk di atas sofa dalam ruang tamunya, kakinya tertutup oleh selembar selimut.
Melihatku datang, dia meminta maaf sambil tertawa: “Aku tidak bisa menjemputmu, sebab aku tidak bisa berdiri.”
Aku terkejut mendengarnya. Ketika selimut disingkirkan terlihat kalau sepasang kakinya tidak sama panjang. Seketika aku tertegun dan bertanya kenapa demikian?
Temanku menjawab: “Aku ditabrak oleh sebuah truk besar yang lepas kendali di jalan tol.”
Temanku menepuk sofa di sampingnya dan mempersilahkanku untuk duduk, setelah aku mengeringkan air mataku, dia meminta suaminya untuk mendorong kursi roda ke hadapannya. Batinku merasa pilu melihat kursi roda yang masih baru itu, ketika melihat suaminya membopongnya ke atas kursi roda, hatiku berdebar-debar, sebab sebelumnya dia memiliki sepasang kaki yang sangat indah!
Temanku meminta diriku untuk mendorongnya ke kamar tidurnya, dia memintaku untuk membuka lemarinya. Begitu dibuka, di dalamnya ada sepotong rok bertali bahu yang berwarna gading dan sangat indah, panjang rok sampai di lutut, di antara kedua utas tali bahu yang berukuran kecil ada dipasangkan sehelai selendang sutra berwarna perak keabu-abuan, di atas selendang tersulam gambar daun dari benang sutra perak, label harganya masih lengkap tergantung di sana.
Temanku memintaku untuk menurunkan rok dan selendang dari lemari dan menaruh di tangannya, dia merabanya dengan hati-hati dan mengepaskan pada tubuhnya sambil bertanya: “Indah bukan?”
Hidungku terasa berair: “Sungguh indah!”
Temanku melipat rok dan menaruhnya di tanganku : “Untuk kamu.” Aku lekas-lekas mengayunkan tangan.
Temanku menundukkan kepala: “Apakah menurutmu aku masih membutuhkannya di kemudian hari?”
Sepatah kata itu membuat kami berdua sama-sama menangis.
Temanku kemudian mengeluarkan satu kotak sepatu berwarna putih, setelah dibuka ternyata di dalamnya ada sepasang sepatu putih bertumit tinggi dengan ukuran 6 inci. Dia mengatakan: “Sepatu ini merupakan pasangan rok tadi.”
Aku menganggukkan kepala: “Sungguh indah!”
Temanku melihat dengan pandangan mendalam ke luar jendela, beberapa saat kemudian baru dia membalikkan kepala dan berkata kepadaku dengan perasaan sedih tiada terhingga: “Tahukah kamu, ketika aku menemukan diriku akan begini selama-lamanya, apa yang paling kusesali dalam hatiku? Paling kusesali adalah diriku tidak dapat lagi mengenakan rok indah lagi di kemudian hari. Aku tahu kalau kakiku sangat panjang dan sangat indah, apalagi jika sedang memakai rok pendek seperti ini, tentu akan lebih enak dipandang orang. Aku memiliki banyak helai rok yang indah, setelah kecelakaan semuanya telah kuberikan pada orang. Hanya tersisa sehelai rok yang paling kusukai ini, aku sudah lama menyimpannya dan tidak rela untuk mengenakannya, selalu saja menunggu datangnya suatu momen yang paling istimewa, suatu hari dan tempat yang sangat berbeda, namun sepertinya setiap hari adalah biasa-biasa saja, tiada satu hari pun yang istimewa, aku sekarang telah kehilangan kesempatan untuk mengenakannya untuk selama-lamanya.’
Dia berhenti sejenak dan menarik tanganku: “Sekarang aku tahu kalau sesuatu yang indah jangan disimpan selama-lamanya, jangan disimpan hanya untuk menunggu suatu hari istimewa yang tidak pasti datang.”
Ketika ke luar dari rumah temanku, hari sudah sangat malam. Aku duduk di mobil sambil memeluk rok, selendang dan sepatu yang sangat indah dan mahal ini, dalam benakku terus terbayang sepasang kaki temanku yang cacat dan rok yang indah ini, hatiku terasa sangat nyeri sekali, “hari penting” atau “hari istimewa” itu mungkin akan datang dalam hidupnya di kemudian hari, namun rok pendek dan sepatu bertumit tinggi ukuran 6 inci yang indah tidak ada lagi di dalam kamusnya.
Sebetulnya, dalam hidup kita bukankah kita juga sering dengan hati-hati menyimpan benda atau hal yang menurut diri kita adalah paling indah dan paling berharga untuk menunggu suatu tempat yang paling penting, suatu momen yang paling tepat atau suatu kesempatan yang istimewa, baru rela menampilkannya kepada orang?
Setibanya di rumah, suamiku masih menungguku sambil menonton televisi.
Aku masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan ke luar dengan mengenakan rok, sepatu dan selendang.
Mata suamiku seketika menyala: “Oh Tuhan! Kamu sungguh cantik! Di mana kamu beli pakaian ini?”
Aku menggelengkan kepala dan menyampaikan kepadanya kalau pakaian ini dihadiahkan oleh seorang teman, sebab dia tidak bisa lagi mengenakan rok, sebab dia tidak punya kaki lagi.
Mata suamiku segera meredup, menarik tanganku untuk duduk dan melihat pada label rok itu: “Apa yang terjadi?”
Rok ini dibeli pada 3 tahun lalu, namun masih dalam kondisi baru.
Air mataku kembali mengalir deras ke luar: “Dia telah membelinya untuk waktu yang lama, dia pikir suatu hari nanti pasti ada kesempatan untuk mengenakannya, dia selalu menunggu suatu hari yang istimewa......”
Suamiku merangkulku dan mengelus rambutku: “Hari istimewa itu tidak pernah datang, bukankah begitu?”
Keesokan paginya, suamiku sudah sibuk di dapur, ketika aku masuk ke dapur dengan mata yang masih mengantuk, di meja makan telah tersedia sarapan pagi, tempat makanan sarapan ternyata adalah beberapa piring porselin warna gading, itu adalah peralatan dapur yang kubeli pada 2 tahun lalu dalam sebuah pameran, permukaan piringnya sangat halus, di tepi piring ada gambar stroberi merah dan daun hijau kecil. Saat ini di atas piring terisi telur mata sapi berwarna kuning dan putih, kelihatan sangat indah. Suamiku selama ini tidak mengijinkanku untuk menggunakannya, sebab takut jika pecah tidak bisa jadi set lagi, dia selalu beralasan kalau kelak suatu hari nanti kami pindah ke rumah besar, maka piring yang tidak satu set ini tidak akan enak dipandang lagi.
Pagi ini tentu dia pagi-pagi sudah bangun dan menghabiskan banyak waktu untuk mencari piring-piring ini di ruang penyimpanan.
Sehabis sarapan, aku memindahkan kursi untuk membuka pintu lemari gantung, di dalamnya tersimpan berbagai macam cangkir kristal kelas tinggi yang sesudah dibeli langsung disimpan. Semua cangkir itu kubeli secara bertahap, sebagian hanya dipergunakan sekalu dua kali saja ketika menjamu tamu pada Tahun Baru, sebagian lagi sama sekali tidak pernah dipergunakan. Setiap kali habis pakai segera disimpan kembali, takut kalau sampai dipecahkan oleh anakku, aku selalu menunggu sampai kelak anak sudah besar dan tidak akan memecahkannya lagi, baru akan dikeluarkan untuk dipergunakan, namun aku selalu saja khawatir akan dibuat pecah, tak peduli anakku usianya 2 tahun atau pun 12 tahun.
Maka semua peralatan makan dan cangkir indah ini biasanya tidak akan pernah diletakkan di atas meja makan. Sekarang aku menaruh semuanya di atas meja makan, aku tidak mau lagi menunggu datangnya suatu momen yang istimewa dan tidak biasa. Semua barang yang indah ini sudah dapat kulihat setiap saat.
Siangnya suami dan anakku pergi ke Electronic City, aku duduk untuk menulis selembar kartu ulang tahun, walau pun ulang tahunnya sudah lewat seminggu. Dulu setiap kali aku ingin menulis surat kepadanya untuk mengungkapkan perasaanku, berterima kasih atas kasih sayang dan pengertiannya selama beberapa tahun ini, bahkan aku ingin dia tahu betapa kagum dan sayangnya diriku kepadanya, namun selalu saja aku memberitahukan diri sendiri kalau tidak usah terburu-buru. Sebab ulang tahun pada tahun depan masih bisa, bahkan aku berpikir mungkin kalau kami berdua sudah renta dan tidak bisa bergerak leluasa lagi, masih belum terlambat untuk menulisnya saat itu.
Sekarang aku tahu kalau “hari esok” tidak mungkin akan tetap menungguku di depan, aku harus setiap saat menyampaikan perasaan sayang dan terima kasihku padanya. Aku malah menelpon satu bioskop dan memesan 3 lembar tiket untuk menonton film “Harry Potter” di hari Sabtu, anakku telah banyak kali memintaku untuk menemaninya menonton film-film yang disukainya, namun aku selalu merasa sangat sibuk dan tidak sempat menemaninya untuk menonton film kanak-kanak, aku selalu bilang nanti, menanti cuaca baik, menanti kondisi hati baik, menanti waktu luangku datang.
Selalu saja menunda-nunda, menunda sampai semua film sudah lewat masa tayangnya, namun “waktu, tempat dan orang yang cocok” itu tidak juga tiba. Sekarang anakku hampir mencapai usia di mana dia tidak perlu lagi ditemani untuk menonton film, aku terpikir akan suatu hari nanti ketika dia sudah dewasa dan meninggalkan rumah, hanya akan meninggalkan bayangan punggungnya dan penyesalan selama-lamanya. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menonton bersamanya, kegembiraan yang tidak mungkin kembali lagi.
Ketika malam menonton televisi, suamiku mengeluarkan setumpuk brosur pemasaran rumah, pada setiap lembarnya tercetak gambar rumah yang sangat cantik, suamiku meletakkannya di depanku dan berkata: “Mari, pilih satu rumah yang kamu sukai.”
Aku memandang padanya, dulu dia tidak pernah membawa pulang benda seperti ini, juga menentangku membawa pulang. Dia selalu beranggapan kalau kami sudah punya rumah dan tidak perlu lagi menambah pengeluaran dengan membeli rumah baru.
Saat ini dia duduk di sofa dan mengeluarkan selembar di antaranya untuk ditunjukkan kepadaku: “Tempat ini cukup baik, sangat dekat ke Dong-hu, dari rumah bisa melihat air danau, di komplek juga ada lapangan tenis dan kolam renang, ada lahan rumput dan bunga yang luas... Kita boleh terlebih dahulu membayar uang muka, sisanya mengambil kredit dari bank, dengan demikian kita sekeluarga bisa tinggal di rumah idaman kita, ketika kamu lelah boleh ke kolam renang di bawah, anak kita juga boleh main roller skating di dalam komplek.”
Aku melihat padanya: “Bukankah pernah kamu bilang kalau kantormu ada fasilitas pembagian rumah?”
Suamiku menjawab: “Jangan menunggu lagi, sebab tidak tahu harus menunggu berapa tahun lagi, selain itu jika pun tiba waktunya mendapatkan jatah, belum tentu rumah tersebut akan kita sukai. Jika seumur hidup hanya 100 tahun, paling tidak semestinya kita pernah tinggal di rumah idaman kita.”
Aku menganggukkan kepala. Suamiku memandang padaku melewati meja teh, saat itu aku sedang mengenakan rok indah dari temanku. Dia seperti teringat sesuatu dan berjalan ke tempatku untuk merangkul pinggangku: “Tahukah apa yang kupikirkan ketika melihatmu mengenakan rok ini? Menurutku, benda-benda indah dalam kehidupan tidak seharusnya disimpan, semua yang ada dalam perkawinan juga demikian.”
Biar bagaimana pun, sepasang suami isteri sudah seharusnya menampilkan benda paling indah dalam setiap harinya, jangan disimpan sambil menunggu hari istimewa yang tidak pasti datang.
Sesuatu yang indah janganlah disimpan, melainkan harus dihargai. Benda yang indah dalam kehidupan tidak perlu disimpan, semua hal dalam perkawinan juga begitu. Jangan disimpan sambil menunggu hari istimewa yang tidak pasti datang.
tampak duduk di atas sofa dalam ruang tamunya, kakinya tertutup oleh selembar selimut.
Melihatku datang, dia meminta maaf sambil tertawa: “Aku tidak bisa menjemputmu, sebab aku tidak bisa berdiri.”
Aku terkejut mendengarnya. Ketika selimut disingkirkan terlihat kalau sepasang kakinya tidak sama panjang. Seketika aku tertegun dan bertanya kenapa demikian?
Temanku menjawab: “Aku ditabrak oleh sebuah truk besar yang lepas kendali di jalan tol.”
Temanku menepuk sofa di sampingnya dan mempersilahkanku untuk duduk, setelah aku mengeringkan air mataku, dia meminta suaminya untuk mendorong kursi roda ke hadapannya. Batinku merasa pilu melihat kursi roda yang masih baru itu, ketika melihat suaminya membopongnya ke atas kursi roda, hatiku berdebar-debar, sebab sebelumnya dia memiliki sepasang kaki yang sangat indah!
Temanku meminta diriku untuk mendorongnya ke kamar tidurnya, dia memintaku untuk membuka lemarinya. Begitu dibuka, di dalamnya ada sepotong rok bertali bahu yang berwarna gading dan sangat indah, panjang rok sampai di lutut, di antara kedua utas tali bahu yang berukuran kecil ada dipasangkan sehelai selendang sutra berwarna perak keabu-abuan, di atas selendang tersulam gambar daun dari benang sutra perak, label harganya masih lengkap tergantung di sana.
Temanku memintaku untuk menurunkan rok dan selendang dari lemari dan menaruh di tangannya, dia merabanya dengan hati-hati dan mengepaskan pada tubuhnya sambil bertanya: “Indah bukan?”
Hidungku terasa berair: “Sungguh indah!”
Temanku melipat rok dan menaruhnya di tanganku : “Untuk kamu.” Aku lekas-lekas mengayunkan tangan.
Temanku menundukkan kepala: “Apakah menurutmu aku masih membutuhkannya di kemudian hari?”
Sepatah kata itu membuat kami berdua sama-sama menangis.
Temanku kemudian mengeluarkan satu kotak sepatu berwarna putih, setelah dibuka ternyata di dalamnya ada sepasang sepatu putih bertumit tinggi dengan ukuran 6 inci. Dia mengatakan: “Sepatu ini merupakan pasangan rok tadi.”
Aku menganggukkan kepala: “Sungguh indah!”
Temanku melihat dengan pandangan mendalam ke luar jendela, beberapa saat kemudian baru dia membalikkan kepala dan berkata kepadaku dengan perasaan sedih tiada terhingga: “Tahukah kamu, ketika aku menemukan diriku akan begini selama-lamanya, apa yang paling kusesali dalam hatiku? Paling kusesali adalah diriku tidak dapat lagi mengenakan rok indah lagi di kemudian hari. Aku tahu kalau kakiku sangat panjang dan sangat indah, apalagi jika sedang memakai rok pendek seperti ini, tentu akan lebih enak dipandang orang. Aku memiliki banyak helai rok yang indah, setelah kecelakaan semuanya telah kuberikan pada orang. Hanya tersisa sehelai rok yang paling kusukai ini, aku sudah lama menyimpannya dan tidak rela untuk mengenakannya, selalu saja menunggu datangnya suatu momen yang paling istimewa, suatu hari dan tempat yang sangat berbeda, namun sepertinya setiap hari adalah biasa-biasa saja, tiada satu hari pun yang istimewa, aku sekarang telah kehilangan kesempatan untuk mengenakannya untuk selama-lamanya.’
Dia berhenti sejenak dan menarik tanganku: “Sekarang aku tahu kalau sesuatu yang indah jangan disimpan selama-lamanya, jangan disimpan hanya untuk menunggu suatu hari istimewa yang tidak pasti datang.”
Ketika ke luar dari rumah temanku, hari sudah sangat malam. Aku duduk di mobil sambil memeluk rok, selendang dan sepatu yang sangat indah dan mahal ini, dalam benakku terus terbayang sepasang kaki temanku yang cacat dan rok yang indah ini, hatiku terasa sangat nyeri sekali, “hari penting” atau “hari istimewa” itu mungkin akan datang dalam hidupnya di kemudian hari, namun rok pendek dan sepatu bertumit tinggi ukuran 6 inci yang indah tidak ada lagi di dalam kamusnya.
Sebetulnya, dalam hidup kita bukankah kita juga sering dengan hati-hati menyimpan benda atau hal yang menurut diri kita adalah paling indah dan paling berharga untuk menunggu suatu tempat yang paling penting, suatu momen yang paling tepat atau suatu kesempatan yang istimewa, baru rela menampilkannya kepada orang?
Setibanya di rumah, suamiku masih menungguku sambil menonton televisi.
Aku masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan ke luar dengan mengenakan rok, sepatu dan selendang.
Mata suamiku seketika menyala: “Oh Tuhan! Kamu sungguh cantik! Di mana kamu beli pakaian ini?”
Aku menggelengkan kepala dan menyampaikan kepadanya kalau pakaian ini dihadiahkan oleh seorang teman, sebab dia tidak bisa lagi mengenakan rok, sebab dia tidak punya kaki lagi.
Mata suamiku segera meredup, menarik tanganku untuk duduk dan melihat pada label rok itu: “Apa yang terjadi?”
Rok ini dibeli pada 3 tahun lalu, namun masih dalam kondisi baru.
Air mataku kembali mengalir deras ke luar: “Dia telah membelinya untuk waktu yang lama, dia pikir suatu hari nanti pasti ada kesempatan untuk mengenakannya, dia selalu menunggu suatu hari yang istimewa......”
Suamiku merangkulku dan mengelus rambutku: “Hari istimewa itu tidak pernah datang, bukankah begitu?”
Keesokan paginya, suamiku sudah sibuk di dapur, ketika aku masuk ke dapur dengan mata yang masih mengantuk, di meja makan telah tersedia sarapan pagi, tempat makanan sarapan ternyata adalah beberapa piring porselin warna gading, itu adalah peralatan dapur yang kubeli pada 2 tahun lalu dalam sebuah pameran, permukaan piringnya sangat halus, di tepi piring ada gambar stroberi merah dan daun hijau kecil. Saat ini di atas piring terisi telur mata sapi berwarna kuning dan putih, kelihatan sangat indah. Suamiku selama ini tidak mengijinkanku untuk menggunakannya, sebab takut jika pecah tidak bisa jadi set lagi, dia selalu beralasan kalau kelak suatu hari nanti kami pindah ke rumah besar, maka piring yang tidak satu set ini tidak akan enak dipandang lagi.
Pagi ini tentu dia pagi-pagi sudah bangun dan menghabiskan banyak waktu untuk mencari piring-piring ini di ruang penyimpanan.
Sehabis sarapan, aku memindahkan kursi untuk membuka pintu lemari gantung, di dalamnya tersimpan berbagai macam cangkir kristal kelas tinggi yang sesudah dibeli langsung disimpan. Semua cangkir itu kubeli secara bertahap, sebagian hanya dipergunakan sekalu dua kali saja ketika menjamu tamu pada Tahun Baru, sebagian lagi sama sekali tidak pernah dipergunakan. Setiap kali habis pakai segera disimpan kembali, takut kalau sampai dipecahkan oleh anakku, aku selalu menunggu sampai kelak anak sudah besar dan tidak akan memecahkannya lagi, baru akan dikeluarkan untuk dipergunakan, namun aku selalu saja khawatir akan dibuat pecah, tak peduli anakku usianya 2 tahun atau pun 12 tahun.
Maka semua peralatan makan dan cangkir indah ini biasanya tidak akan pernah diletakkan di atas meja makan. Sekarang aku menaruh semuanya di atas meja makan, aku tidak mau lagi menunggu datangnya suatu momen yang istimewa dan tidak biasa. Semua barang yang indah ini sudah dapat kulihat setiap saat.
Siangnya suami dan anakku pergi ke Electronic City, aku duduk untuk menulis selembar kartu ulang tahun, walau pun ulang tahunnya sudah lewat seminggu. Dulu setiap kali aku ingin menulis surat kepadanya untuk mengungkapkan perasaanku, berterima kasih atas kasih sayang dan pengertiannya selama beberapa tahun ini, bahkan aku ingin dia tahu betapa kagum dan sayangnya diriku kepadanya, namun selalu saja aku memberitahukan diri sendiri kalau tidak usah terburu-buru. Sebab ulang tahun pada tahun depan masih bisa, bahkan aku berpikir mungkin kalau kami berdua sudah renta dan tidak bisa bergerak leluasa lagi, masih belum terlambat untuk menulisnya saat itu.
Sekarang aku tahu kalau “hari esok” tidak mungkin akan tetap menungguku di depan, aku harus setiap saat menyampaikan perasaan sayang dan terima kasihku padanya. Aku malah menelpon satu bioskop dan memesan 3 lembar tiket untuk menonton film “Harry Potter” di hari Sabtu, anakku telah banyak kali memintaku untuk menemaninya menonton film-film yang disukainya, namun aku selalu merasa sangat sibuk dan tidak sempat menemaninya untuk menonton film kanak-kanak, aku selalu bilang nanti, menanti cuaca baik, menanti kondisi hati baik, menanti waktu luangku datang.
Selalu saja menunda-nunda, menunda sampai semua film sudah lewat masa tayangnya, namun “waktu, tempat dan orang yang cocok” itu tidak juga tiba. Sekarang anakku hampir mencapai usia di mana dia tidak perlu lagi ditemani untuk menonton film, aku terpikir akan suatu hari nanti ketika dia sudah dewasa dan meninggalkan rumah, hanya akan meninggalkan bayangan punggungnya dan penyesalan selama-lamanya. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menonton bersamanya, kegembiraan yang tidak mungkin kembali lagi.
Ketika malam menonton televisi, suamiku mengeluarkan setumpuk brosur pemasaran rumah, pada setiap lembarnya tercetak gambar rumah yang sangat cantik, suamiku meletakkannya di depanku dan berkata: “Mari, pilih satu rumah yang kamu sukai.”
Aku memandang padanya, dulu dia tidak pernah membawa pulang benda seperti ini, juga menentangku membawa pulang. Dia selalu beranggapan kalau kami sudah punya rumah dan tidak perlu lagi menambah pengeluaran dengan membeli rumah baru.
Saat ini dia duduk di sofa dan mengeluarkan selembar di antaranya untuk ditunjukkan kepadaku: “Tempat ini cukup baik, sangat dekat ke Dong-hu, dari rumah bisa melihat air danau, di komplek juga ada lapangan tenis dan kolam renang, ada lahan rumput dan bunga yang luas... Kita boleh terlebih dahulu membayar uang muka, sisanya mengambil kredit dari bank, dengan demikian kita sekeluarga bisa tinggal di rumah idaman kita, ketika kamu lelah boleh ke kolam renang di bawah, anak kita juga boleh main roller skating di dalam komplek.”
Aku melihat padanya: “Bukankah pernah kamu bilang kalau kantormu ada fasilitas pembagian rumah?”
Suamiku menjawab: “Jangan menunggu lagi, sebab tidak tahu harus menunggu berapa tahun lagi, selain itu jika pun tiba waktunya mendapatkan jatah, belum tentu rumah tersebut akan kita sukai. Jika seumur hidup hanya 100 tahun, paling tidak semestinya kita pernah tinggal di rumah idaman kita.”
Aku menganggukkan kepala. Suamiku memandang padaku melewati meja teh, saat itu aku sedang mengenakan rok indah dari temanku. Dia seperti teringat sesuatu dan berjalan ke tempatku untuk merangkul pinggangku: “Tahukah apa yang kupikirkan ketika melihatmu mengenakan rok ini? Menurutku, benda-benda indah dalam kehidupan tidak seharusnya disimpan, semua yang ada dalam perkawinan juga demikian.”
Biar bagaimana pun, sepasang suami isteri sudah seharusnya menampilkan benda paling indah dalam setiap harinya, jangan disimpan sambil menunggu hari istimewa yang tidak pasti datang.
Sesuatu yang indah janganlah disimpan, melainkan harus dihargai. Benda yang indah dalam kehidupan tidak perlu disimpan, semua hal dalam perkawinan juga begitu. Jangan disimpan sambil menunggu hari istimewa yang tidak pasti datang.
Pintu Kehidupan
Dalam kehidupan ada banyak sekali daun pintu, tak peduli terkunci atau tidak terkunci, tak peduli terbuka atau tertutup, diri sendiri selalu harus mencoba untuk membuka pintu itu.
Jika pun pintu depan tidak dapat dibuka, boleh mencoba pintu samping atau pintu belakang. Jika pun tidak ada pintu samping atau pintu belakang, jangan lupa masih ada jendela untuk dicoba.
Jika pun jendela tidak dapat dibuka, anda boleh pergi jalan-jalan dulu dan nantinya baru kembali lagi, kenapa harus bodoh menunggu?
Ada sepasang abang beradik yang tinggal bersama, selama beberapa tahun lamanya setiap hari mereka sama-sama berangkat kerja. Karena abang pulang kerja lebih dini, maka adik tidak pernah memikirkan masalah buka pintu dan tidak pernah membawa anak kunci pintu.
Suatu hari, karena tiba-tiba ada masalah, adik pulang ke rumah lebih cepat.
Dia duduk di ambang pintu, dengan jemu mengharapkan abang cepat pulang, setelah menunggu beberapa jam, akhirnya abang muncul di jalan depan rumah.
Abang melihat pada adik dan bertanya: “Mengapa kamu duduk di sini?”
Adik menjawab: “Saya tidak ada anak kunci!” Abang tersenyum tanpa bicara dan mendorong daun pintu, ternyata pintu langsung terbuka.
Ternyata pintu rumah tidak pernah dikunci. Adik menunggu sia-sia di depan pintu hanya dikarenakan dia tidak mau mencoba untuk mendorong daun pintu.
Kisah ini menjelaskan kalau ada sebagian dari masalah “tidak dapat” diselesaikan, kadangkala hanya disebabkan oleh kita “tidak ingin” menyelesaikannya, tidak mau mencoba, tidak mau membuka mulut dan tidak mau bertindak.
Apakah anda sudah bersiap-siap untuk membuka pintu?
Pintu kehidupan ini harus anda buka sendiri!
Artikel Ini Kiriman Slie
Jika pun pintu depan tidak dapat dibuka, boleh mencoba pintu samping atau pintu belakang. Jika pun tidak ada pintu samping atau pintu belakang, jangan lupa masih ada jendela untuk dicoba.
Jika pun jendela tidak dapat dibuka, anda boleh pergi jalan-jalan dulu dan nantinya baru kembali lagi, kenapa harus bodoh menunggu?
Ada sepasang abang beradik yang tinggal bersama, selama beberapa tahun lamanya setiap hari mereka sama-sama berangkat kerja. Karena abang pulang kerja lebih dini, maka adik tidak pernah memikirkan masalah buka pintu dan tidak pernah membawa anak kunci pintu.
Suatu hari, karena tiba-tiba ada masalah, adik pulang ke rumah lebih cepat.
Dia duduk di ambang pintu, dengan jemu mengharapkan abang cepat pulang, setelah menunggu beberapa jam, akhirnya abang muncul di jalan depan rumah.
Abang melihat pada adik dan bertanya: “Mengapa kamu duduk di sini?”
Adik menjawab: “Saya tidak ada anak kunci!” Abang tersenyum tanpa bicara dan mendorong daun pintu, ternyata pintu langsung terbuka.
Ternyata pintu rumah tidak pernah dikunci. Adik menunggu sia-sia di depan pintu hanya dikarenakan dia tidak mau mencoba untuk mendorong daun pintu.
Kisah ini menjelaskan kalau ada sebagian dari masalah “tidak dapat” diselesaikan, kadangkala hanya disebabkan oleh kita “tidak ingin” menyelesaikannya, tidak mau mencoba, tidak mau membuka mulut dan tidak mau bertindak.
Apakah anda sudah bersiap-siap untuk membuka pintu?
Pintu kehidupan ini harus anda buka sendiri!
Artikel Ini Kiriman Slie
Dialog Antara Dosen dengan Mahasiswa
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".
"Tentu saja," jawab si Profesor,
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".
"Tentu saja," jawab si Profesor,
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
Langganan:
Postingan (Atom)
