Senin, 03 September 2012

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan. Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang. Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah. Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi kesekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak.”NGGAK MAU!!”

Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.

Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim. Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu. Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop. Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain

Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa. Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai di keluar rumah

Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk acara campingmu selama sebulan liburan. Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya..

Saat kau berumur 15 tahun, pulang kerja ingin memelukmu
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?” Sebagai balasannya, kau jawab,”Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan,”Aku tidak ingin seperti Ibu.”

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi. Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furnitur untuk rumah barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furnitur itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan. Sebagai balasannya, kau mengeluh,”Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya, ”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,”Bu, saya sibuk sekali, nggak ada
waktu.”.

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat banyak hal yang belum pernah kau lakukan untuk dia. Perasaan bersalah datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam, tanpa akhir.

*JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH *
SAYANGMU HARUS LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI.

[DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG
TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU?]"

Semuanya belum terlambat jika kita mau untuk memperbaikinya.

————

Ketika mengandung ibu sabar menahan segala rasa, dari mual hingga sakit kepala.
Setiap hari ibu mengelus dan mengajak bicara, walau kita belum lahir kedunia.
Saat melahirkan tiba, ibu meregang nyawa menahan sakit yang berjuta rasa.
Semua hilang sirna berganti bahagia, mendengar tangis pertama kita.

Jelang remaja tanpa lelah ibu menasihati agar pandai menjaga diri
Sesudah dewasa dan mandiri , seakan ibu kita tak penting lagi.
Jika ibu rindu ingin berjumpa, alasan kita banyak sekali
Sehari tak bertemu kekasih, hati gelisah setengah mati.

Sesudah menikah ibu tinggal bersama , kita jadikan ibu pengasuh anak kita.
ibu terus saja memberikan kasih sayangnya seperti yang dulu-dulu kala.
Ketika ibu mulai tua dan tak berdaya, rumah jompo pilihan kita.
Inikah balasan pada ibu yg mengasihi kita tanpa pamrih?

Sebelum terlambat, minta maaflah pada ibu, karena hari esok kita tak tahu. Ingatlah selalu surga ada di telapak kaki ibu.

Sadarkah kita bahwa sebenarnya orang yang terhebat di dunia adalah seorang ibu?

Ya seorang ibu adalah yang paling hebat di dunia ini, kenapa?

Mari sama-sama kita renungkan, siapakah yang melahirkan orang-orang hebat didunia ini?

Mereka lahir dari rahim seorang ibu! Ketika ibu mengandung membawa kita selama 9 bulan, itu adalah sesuatu hal yang melelahkan, namun ibu tidak merasa lelah atau capai dengan hal itu, bandingkan dengan kita yang kadang merasa malas dan capai saat membawa tas sekolah atau kuliah yang berisi buku-buku yang beratnya belum tentu sama dengan berat kandungan seorang ibu.

Dan mungkin diantara kita baru mengetahui atau bahkan belum tahu sebelumnya bahwa seorang ibu, keberaniannya untuk berkorban jauh lebih hebat dari seorang pahlawan. Mungkin seorang pahlawan berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan, namun ibu juga berjuang dan berkorban untuk melahirkan suatu kehidupan yang mungkin nantinya kehidupan itu akan menjadi pahlawan lagi.

Ketika ibu sedang proses melahirkan, ibu menahan rasa sakit yang luar biasa sakitnya, hingga terkadang beberapa ibu kelelahan dan hampir kehilangan nyawanya. Dan seandainya ada hal yang harus dikorbankan antara dirinya atau anaknya, tanpa pikir panjang, ibu dengan tegas dan cepat berkata, “Dokter, selamatkan saja anakku! Jangan pikirkan diriku!” betapa tegas dan berani ibu mengorbankan nyawanya demi anaknya.

Ya..seperti itulah seorang Ibu bagi kita. semua yang masih memiliki hati dan cinta untuk ibu kita. Ada sebuah peribahasa berkata, “seorang ibu bisa merawat sepuluh orang anaknya, tapi sepuluh orang anak belum tentu bisa merawat seorang ibu.”

Ya percaya atau tidak, begitulah kenyataan yang ada, sebab ibu adalah orang terhebat di dunia, semua hal bisa dilakukan seorang Ibu, bahkan pendidikan seorang pemimpin negara sekalipun diberikan oleh seorang ibu. orang sehebat apapun didunia ini tentu lahir dari rahim seorang Ibu, dan orang secerdas apapun tentu tumbuh dari bimbingan kasih sayang seorang ibu.


*share artikel ini agar menginspirasi yang lain

Kado 6 November 2009

Makasih karena kau ada di sampingku
makasih karena kau telah mencintaiku
makasih karena kau telah setia kepadaku

walau ku sering menyakitimu
walau ku sering melukai hatimu
namun semua itu ku lakukan tanpa ada kekerasan
yang dapat merusak jasmanimu

ku yakin, tidak ada didunia ini yang mau dilahirkan untuk menyakiti or melukai hati org lain
apalgi diriku, ku tak mau melakukan itu padamu
yang ku mau, kau senang karenaku
yang ku mau, kau bahagia karenaku

mungkin ku bukan orang yang setia
tapi aku akan berusaha untuk menjadi orang yang setia
mungkin ku bukan orang yang yang pandai mencintai
tapi aku punya sebuah cinta yang murni dan akan menemanimu sampai akhir hayatmu

makasih...
ku takkan melupakkanmu dan akan terus selalu menjagamu dengan segenap ragaku
karena ku mencintai mu, sangat mencintaimu
dan selalu begitu

Minggu, 02 September 2012

Kisah 6 Orang

Dikisahkan ada 6 orang yang bernama :
1. Sukses
2. Tekun
3. Kerja Keras
4. Malas
5. Kaya
6. Tidak Tahu

Suatu hari Si Sukses terjatuh ke dalam jurang, Dia berteriak minta tolong.

Si Tidak Tahu mendengar & berusaha menolong. Namun karena tidak tahu, Si Tidak Tahu pun tidak tahu APA yang harus dilakukan.

Tidak lama kemudian, lewatlah sahabatnya yang bernama, Si Malas.

"Malas tolong keluarkan aku dari sini" mohon Si Sukses

"Maaf aku sedang tidak ada waktu !!" jawab Si Malas sambil berlalu

Karna belum mendapat pertolongan, Si Sukses pun terus berteriak.

Kali ini yg mendengar suaranya adalah Si Kaya, "Apa yang bisa kulakukan untukmu?"

"Tolong beri aku tali" jawab Si Sukses

"Tali ?? Aku tidak punya benda itu. Aku hanya punya rumah mewah, uang, mobil, hotel & apartemen. Maaf aku tidak bisa membantumu !!" Si Kaya pun pergi

Si Sukses hampir putus asa, tetapi sahabatnya yang lain datang membantu, Si Tekun & Si Kerja Keras.

Si Kerja Keras segera mencari seutas tali & mengulurkannya ke dalam jurang.

Sebenarnya, Si Kerja Keras tidak sanggup mengangkat Si Sukses sendirian, sungguh beruntung ada Si Tekun yang menyemangati Si Kerja keras, Si Sukses pun selamat.

Pesan Moral, tanpa adanya Kerja Keras & Ketekunan, tidak akan hadir sukses dalam hidup ini.

Kita semua setuju bahwa Kerja keras atau yang kini kita sebut Kerja Cerdas akan dapat membuat sesuatu terjadi dalam hidup ini.

Kerja Keras butuh Ketekunan.
Tanpa adanya Ketekunan,
Usaha keras kita akan berakhir dengan Sia-Sia.

Ketekunan adalah Sahabat Kerja Keras.

Jadi,,, Sudahkah kita bekerja dengan maksimal & tekun ??

"Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya."

Artikel ini kiriman Ermi (Jakarta)
*share artikel ini agar menginspirasi yang lain

Menilai Seseorang

Seorang dokter sedang bergegas masuk ke dalam ruang operasi di karenakan ada seorang pasien yang membutuhkan bantuannya.

Sang ayah dari pasien yang akan di operasi menghampirinya dan dengan gusar berkata "Kenapa lama sekali anda sampai ke
sini ? Apakah anda tidak tahu bahwa nyawa anak saya terancam jika tidak di operasi?

Dokter itu tersenyum dan berkata "Maaf, saya sedang tidak berada di rumah sakit, tapi secepatnya saya menuju kemari ketika pihak rumah sakit menghubungi saya"

Kemudian dokter tersebut bergegas menuju ke ruang operasi, setelah beberapa jam ia keluar dengan senyuman di wajahnya dan berkata kepada ayah dari pasien tersebut "Syukurlah, anak anda sudah tertolong dan keadaannya sudah sangat stabil".

Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter tersebut berkata lagi "Suster akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan", setelah berkata dokter tersebut segera berlalu dengan tergesa-gesa.

Sang ayah berkata kepada suster "Kenapa dokter itu angkuh sekali ? dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya !!!"

Sambil meneteskan air mata suster menjawab "Anak dokter tersebut meninggal dalam kecelaaan kemarin sore, ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak anda. Sekarang anak anda sudah selamat dan ia bisa kembali berkabung".

Pesan Cerita :

Janganlah kita tergesa-gesa memberikan penilaian terhadap seseorang, tapi maklumilah bahwa setiap orang di sekeliling kita menyimpan cerita kehidupan yang terbayang di benak kita.

Ada air mata di balik senyuman

Ada kasih sayang di balik setiap amarah

Ada PENGORBANAN di balik setiap ketidak pedulian

Ada harapan di balik setiap kesakitan

Ada kekecewaan di balik setiap derai tawa

Semoga kita semua bisa menjadi manusia dengan rasa toleransi yang semakin luas dan bersyukur dengan apa yang telah kita miliki dalam hidup ini. Ingatlah, kita bukannya satu-satu manusia dengan segudang masalah.

Tersenyumlah, karena senyum mampu membasuh setiap luka

Maafkanlah, karena maaf mampu menyembuhkan semua rasa sakit.

*share artikel ini agar menginspirasi yang lain

Lakukan dengan Segenap Hati

Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia tekuni selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya.

Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati.

Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, "Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada."

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.

Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, "Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!"

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.

Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan kejujuran, segenap hati, dan bijaksana.

Sebab kehidupanmu saat ini adalah akibat dari pilihanmu di masa lalu dan masa depanmu adalah keputusan yang kita ambil saat ini.

Artikel ini kiriman Willy Liu
*share artikel ini agar menginspirasi yang lain

Selasa, 28 Agustus 2012

Jangan Menunggu

12 kata “JANGAN MENUNGGU” yang perlu dihindari:

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan.

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Maka kamu pasti bisa!

*Share artikel ini agar menginspirasi yang lain

Menghargai Waktu

Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya sendiri.

Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.

“Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak selesaikan,” seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan bertanya, “Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?”

Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, “Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari”.

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak bertanya, “Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?”

Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, “Maaf Pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya.”

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum dia berkata, “Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman.” tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam mangkok yang hampir habis.

Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, “Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua”.

“Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis”.

Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, “Terima kasih, Pak. Tidak diduga saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati”.

Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang tidak mudah.

Untuk itu mulai sekarang belajarlah menghargai waktu, waktu dimana kita untuk bekerja dan keluarga.
*Share artikel ini agar menginspirasi yang lain